Selasa Rasa Inspirasi ala Indonesia Mengajar

Sudah hampir empat tahun saya pernah membicarakan sebuah gerakan pendidikan "Indonesia Mengajar". Kali ini ada cerita menarik dari gerakan tersebut. Berawal dari sebuah post yang muncul pada timeline instagram saya.

Sebenarnya kegiatan seperti ini sudah sering diadakan oleh pihak Indonesia Mengajar, namun saya selalu bentrok di waktu dan lokasi yang saat itu sedang tidak memungkinkan untuk bisa dateng ke daerah tersebut. Saat melihat post tersebut, yang pertama kali saya lihat pastinya lokasi dan waktu. "Wah daerah Senopati, taulah akses kesana. Malem juga mulainya, bisa abis ngerjain kerjaan di lab baru datang" begitu pikir saya dan tanpa berpikir panjang langsung mengakses situs pendaftarannya. Kemudian muncul email registration confirmation. Tinggal tunggu hari H dan menikmati acara¬
The day! Hari yang ditunggu dateng. Sedikit nervous karena dateng sendiri berhubungan temen yang biasa diajakin sedang ada urusan lain. Berhubung jam kerja di lab sampai jam 5, jam 5 langsung berangkat menuju Guvera. Pengalaman terakhir naik angkot memakan waktu 2 jam dari Depok-Senopati. Kali ini mencoba naik kereta terlebih dahulu baru naik bis dan sedihnya memakan waktu yang sama :(
Tapi Alhamdulillah sampe Guvera jam 7 masih lebih dikit. Itu pun berkat adegan nyasar yang bingung Guvera dimana. Pas nanya-nanya pun orang bingung Guvera dimana. Kemudian mencoba nanya ke satpam sebuah gedung yang sebenernya gak asing buat saya, karena pernah masuk gedung tersebut untuk ketemu temen yang perusahaannya bertempat di gedung tersebut, dan ternyata Guvera terletak di gedung tersebut lantai satu. Langsung masuk kedalam, isi registrasi, dan duduk manis. Pas sampe masih pengenalan sambil menunggu pembicara siap.
Pembicaranya ada kak Citra (PM II, Kabupaten Rote Ndao) dan kak Adam (PM IX, Kabupaten Paser). Mereka berdua menceritakan pengalaman mereka di penempatan masing-masing. Beda penempatan, beda angkatan memiliki tantangan yang berbeda pula. Seperti kak Adam, beliau menjadi angkatan terakhir yang mendapat penempatan di Paser. Tantangan yang dihadapi adalah "Bagaimana caranya agar pemuda di Paser tetap bergerak saat Paser tidak ada pengajar muda yg datang lagi?".
Saat menyimak tetiba terpikir mengenai bahasa yang digunakan. Saat ditanya bagaimana adaptasi dengan warga setempat yang masih kental dengan bahasa daerahnya, kak Adam menjawab kalo hal ini dia manfaatkan untuk mendekatkan diri pada warga. Paling mudah pada anak-anak, kak Adam kadang meminta anak setempat mengajarinya kata-kata baru yang kemudian dicatat. Kak Citra juga menambahkan kalau bisa mengajarkan anak-anak belajar dengan gambar. Pokoknya bagaimana kita sekreatif mungkin membuat lawan bicara mengeti apa yang kita maksud. Bisa juga mengobrol dengan tetangga atau warga lainnya. Yang saya tangkap, bahasa bukanlah masalah. Warga akan memaklumi kita sebagai pendatang di daerah mereka dan pasti akan pelan-pelan mengajarkan kita mengenai bahasa mereka. "Bisa karena biasa dan bisa karena terpaksa" mungkin itu hal tepat untuk masalah bahasa.
Sharing pun selesai! Gak kerasa kalau sudah jam setengah sembilan lebih. Peserta diaajak buat foto bareng semuanya. Hasilnya seperti ini..
Time to go home! Tapi mumpung ada kesempatan saya sedikit kepo dengan sistem pendaftaran untuk pengajar muda. Ternyata dalam satu tahun mereka membuka dua kali pendaftaran, untuk angkatan ganjil dan ankatan genap. Banyakanya PM yang diterima tergantung dari kebutuhan daerah saat itu. Kata kak Citra, untuk tahun lalu yang diambil 51 PM. Selesai 'kepo' kak Citra mengajak ayo ikut PM, gak akan nyesel kalau ikut. Amiiin.
Kemudian ada kakak yang nanya saya kuliah dimana. Saat dijawab Gunadarma, kakak itu excited dan mengenalkan dirinya. Karena agak rame saya kurang mendengar namanya. Yang diingat kakak itu alumni aritektur 2007. Beliau cerita kalo dari Gunadarma baru dia yang berhasil jadi PM. Ada yang pernah mendaftar juga namun tidak berhasil sampai tahap akhir. Lalu ngobrol sedikit tentang kampus dan tetiba inget titipan temen buat beli sesuatu di daerah deket Senopati. Takut tokonya tutup saya pamit. Agak bodohnya dan baru menyesal saat udah jalan keluar, saya gak meminta kontak kakak yang alumni Gundarma tersebut bahkan memastikan namanya pun lupa. Padahal masih banyak yang mau dikepoin. Yah tapi kalo jodoh terjun di Indonesia Mengajar, pasti bakal ketemu lagi orang-orang hebat yang sudah menjadi Pengajar Muda.
Sekarang FOKUS SKRIPSI dan LULUS TEPAT WAKTU biar bisa melakukan hal baru yang pastinya menarik :)

Selasa Rasa Inspirasi ala Indonesia Mengajar Selasa Rasa Inspirasi ala Indonesia Mengajar Reviewed by juwita on 3:51 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.